Dia akrab dengan panggilannya, Zaid. Seorang santri putra yang sederhana, tawadhu’, alim dan begitu rendah hati. Salah satu santri yang cukup dikenal dan dekat dengan sang Kyai di pesantren itu, kerab beberapa kali ia disuruh untuk menggantikan sang kyai apabila beliau berhalangan hadir di jadwal pengajiannya, sebab beliaulah yang menunjuk Zaid untuk menggantikan dan dirasa Zaid memiliki ilmu yang cukup, berbekal sudah lama nyantri di pesantren.

Sore itu, seusai pengajian kitab rutin yang biasa diisi sang Kyai telah selesai. Zaid berniat untuk sowan menemui sang Kyai guna menyampaikan maksud dan keinginannya yang sudah lama ia pikirkan. Umurnya kini sudah genap 26 tahun, tumbuh dan besar di Pesantren sejak kecil merupakan nikmat yang ia syukuri, bahkan keinginan ingin menjadi santri, ngabdi, dan ngaji itu masih ingin ia jalani lebih lama lagi. Namun hanya saja, ada hal yang lebih memerlukan sosoknya, mengingat ia sebagai figur seorang anak lelaki pertama yang begitu diperlukan dalam keluarga, yang pasti akan menggantikan posisi sang ayah suatu saat kelak untuk menjadi kepala keluarga. Mungkin saat-saat itu telah tiba, ia harus pulang, kembali ke kampung halaman, membantu segala tugas-tugas sang Ayah dan bahkan menggantikannya.

‘’Kak, Ayah sakit, kakak bisa pulang?’’

Kalimat dari adiknya yang ia dengar melalui telepon tadi pagi masih begitu terngiang, ia tau bahwa sang adik hanya memintanya pulang, namun jika ia rasa mungkin inilah saatnya ia untuk benar-benar pulang(boyong) dan menjalankan birrul-walidainnya di Rumah.

Zaid membuyarkan lamunannya ketika mendengar suara langkah kaki dari sandal bakiak yang khas itu. Segera ia menundukkan pandangannya dan sedikit membungkuk saat sang Kyai sudah berada tepat di depannya

‘’Assalamualaikum,’’ ujar sang kyai, sesegera Zaid meminta barokah dengan mencium punggung tangan beliau. ‘’Waalaikum salam kyai’’

‘’ono opo kok sampeyan ono ing ngarep omahku?’’ Tanya sang Kyai merasa Zaid seperti ingin menyampaikan sesuatu.

Sejenak Zaid terdiam sembari menunduk Tawadhu’

‘’njeh, Kyai, kulo wonten niat sowan dateng panjenengan’’ ujar Zaid pelan

Sang Kyai pun tersenyum  dan  mengangguk, beliau pun menyuruh Zaid untuk masuk kedalam agar dapat menyampaikan maksud santrinya itu dengan lebih nyaman, Zaid mulai mengutarakan maksudnya yang lama ini sudah ia pikirkan,

Sang Kyai tersenyum mendengarkan penuturan itu ‘’yowes nek ngunu, aku gapopo’’ ujar sang Kyai membuat Zaid lega mendengarnya

‘’ tapi le, aku pengen ngerti ilmu mu wes cukup opo ora?’’

 ‘’njeh Kyai’’

 terdengar embusan nafas lega dari sang kyai

 ‘’tak kongkon sampeyan nggolek makhluk e gusti Allah seng paleng elek nang dunyo iki, tak kek ‘i waktu sedino mene rene o mbek gowo’en makhluk iku, ngerti le?!’’

sang Kyai pun memberi perintah tersebut untuknya, titah itu akan ia tunaikan dengan bekal ketaatannya pada sang guru.

_________

Keesokan harinya Zaid pergi keluar pesantren, di telinganya terus terngiang perintah dari sang guru tersebut. Ia memutuskan untuk berjalan kaki, dan disetiap langkah perjalanannya ia selalu mencari-cari seorang makhluk yang jelek seperti ucapan Kyai, Zaid masih terus berjalan lagi lebih jauh, setiap matanya masih terus setia menatap, memandangi jalanan sekitar, harap-harap menemukan sosok makhluk yang dimaksud oleh sang Kyai, pikiran Zaid pun masih terus bertanya-tanya sendiri pada dirinya, seperti apa makhluk jelek itu? Jelek perangainya? jelek rupanya? atau jelek dalam maksud yang lain lagi? Entahlah, sudah hampir 3 jam kakinya terus melangkah mencari-cari, namun belum juga merasa menemukan apa yang ia harapkan. Merasa lelah Zaid pun memutuskan untuk beristirahat di pelataran masjid yang terdapat di daerah itu, tak lupa meminum sebotol air yang sempat ia beli tadi di pinggir jalanan. Selang beberapa menit kemudian, Zaid mendengar suara kerumunan warga yang mengamuk didekat jalan masjid, spontan rasa ingin tahu nya pun membawa kakinya untuk melangkah menuju sumber suara rusuh tersebut, sorot matanya menangkap seorang pria yang digebuki massa oleh warga, Zaid pun mencoba melerainya.

‘’ Bapak-Bapak, apa yang yang pria ini lakukan?sampai kalian menghakiminya sendiri’’ tanya Zaid saat suasana perlahan mulai tenang

 ‘’Dia pencuri, dia juga melukai korban, terus kabur gitu aja?!’’ jawabnya salah seorang warga, sejenak Zaid terdiam mendengarnya

‘’apa mungkin ini yang dimaksud kyai? dia melakukan perbuatan tercela, dia makhluk jelek , mungkin dia harus saya bawa’’ batin Zaid dalam hati

‘’Ayo, mari kita bawa saja ke kantor polisi!’’ sahut salah satu warga

‘’Ayo, Ayo!’’ sahut warga-warga yang lain, para warga pun mulai menggiring pria yang dimaksud itu, Zaid hendak mencegahnya namun sesuatu membuatnya mengurungkan niat untuk membawa orang itu ke hadapan Kyai, Ia samar-samar mendengar suara kalimat istighfar penuh penyesalan dari bibir pria tadi saat digiring warga yang melewatinya, membuat Zaid terdiam ditempatnya.

‘’ya Allah, dia memang melakukan perbuatan jelek, namun siapa tahu dia kemudian bertaubat nashuha, dan menjadi hamba Mu yang paling bertaqwa ‘’ Zaid memikirkan nya dalam hati sembari menatap kepergian pria itu.

ia pun menghembus nafas, perjalanan mencari pun masih harus terus berlanjut, kakinya melangkah tak menentu, entah kemana  ia harus pergi, tak ada tujuan tempat yang pasti, hanya sebatas berbekal mencari sesuatu yang entah ia akan menemukannya dimana.

Tanpa dia sadari langkahnya membawa dirinya tanpa sengaja tiba di sebuah pasar tradisional di daerah itu. Zaid masih saja terus berjalan menyusuri tempat itu, hingga tak terasa ia tiba dibelakang pasar itu. Lagi-lagi sorot matanya menemukan kerumunan warga, tanpa menunggu lebih lama Zaid pun menghampirinya, ia menemukan seorang pria yang tergeletak dengan beberapa luka di tubuhnya, Zaid menduga ia adalah korban kecelakaan.

 ‘’Bu, ini kenapa ya?’’ Zaid bertanya pada salah seorang warga yang ikut berkerumun

‘’ini abis ketabrak mobil, nak’’

‘’ dia preman pasar, suka mabuk-mabukan, judi, mainin perempuan, bejatlah pokoknya’’ jelasnya ibu itu membuat Zaid merasa menemukan yang ia cari sudah ada didepan mata,

‘’ini yang saya cari, saya harus membawanya ke pak Kiyai’’ Batin Zaid merasa senang

 ‘’Dia baru aja masuk islam kemarin, eh sekarang meninggal’’ lanjutnya ibu itu menjelaskan,

seketika membuat Zaid lagi-lagi terdiam ‘’ya allah, dia memang sebejat itu, tapi bagaimana jika dia Engkau ampuni dan meninggal dengan khusnul khotimah? Lalu bagaimana jika aku yang seperti ini meninggal dengan su’ul khotimah?’’

Zaid kembali memikirkannya dalam hati, tanpa menunggu lebih lama lagi pun ia memilih pergi meninggalkan tempat itu, mau tak mau pun Zaid melanjutkan perjalannya lagi, hari sudah mulai petang dan ia masih belum menemukan apa yang ia cari untuk ia bawa pulang menghadap Kyai.

Beberapa menit kemudian Adzan Maghrib berkumandang. Zaid melangkahkan kakinya menuju masjid terdekat yang ia temui disana. Beristirahat sejenak disana, menunaikan sholat dan  bertafakkur sebentar, rasa lelah mulai begitu terasa didirinya, namun tetap saja ia harus melanjutkan pencariannya sebelum esok tiba.

Zaid memutuskan untuk sekalian menunggu waktu sholat Isya’ tiba dan segera menunaikannya sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa sengaja ia menemukan seekor Anjing di pinggiran jalan dekat tong sampah. Anjing itu nampak kotor, berpenyakit dan cacat pada kaki sebelahnya, Zaid pun mendekatinya

‘’Anjing ini hewan yang najis, kotor, berpenyakit dan cacat, dia sangat buruk rupa dan begitu jelek, mungkin ini yang harus saya bawa menemui Kyai ‘’pikir Zaid menimang.

Tak menunggu lama pun ia membawa pergi Anjing tersebut bersamanya untuk pergi menemui Sang Kyai, rasa lega dan senang bercampur menjadi satu, akhirnya ia berhasil menemukan apa yang ia cari selama ini. Zaid pun berjalan menuju arah pulang, ia akan menunjukkan apa yang ia bawa besok kepada Kyai, dan ternyata tak sesulit itu mencari makhluk jelek yqang dimaksudkan oleh sang Kiyai pikir Zaid sembari terus berjalan, Tiba-tiba Zaid menghentikan langkahnya ditempat ia kembali terpikirkan sesuatu

‘’ya Allah, Anjing ini memang begitu buruk rupa dan begitu jelek, namun ia tak akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya, sedangkan aku? Aku akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatanku’’ Zaid memikirkannya,

Dengan segera pun ia kembali melepaskan Anjing itu, hari sudah malam dan ia berakhir dengan tak menemukan apapun untuk dibawa pulang dan bahkan ia tak tahu apa yang harus ia katakan besok pada Sang Kyai.

_____________

Keesokan harinya ia pun kembali menghadap sang Kyai seperti yang telah beliau katakan, namun ia tak membawa apapun seperti yang beliau minta. Zaid duduk terdiam menunggu sang Kyai datang menemuinya di ruang tamu, ia sudah dipersilahkan masuk sejak tadi. Sembari menunggu kedatangan sang Kyai ia terus memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan nanti, Zaid terdiam dengan segala pikirannya yang kacau, hingga tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang khas, spontan membuat Zaid membenahi duduknya lebih baik.

 ‘’gimana Zaid? wes ketemu opo ora makhluk elek seng tak kongkon?’’ tanyanya Sang Kyai dengan tenangnya.

Zaid sejenak terdiam, ia tertunduk dengan tawadhu’nya menjawab Sang Kyai

 ‘’Ngapunten Kyai, kulo sampun mados ten pundi-pundi tapi mboten ketemu,’’

 ‘’terus kepiye?’’

‘’Njeh kyai, Makhluk e gusti Allah seng paleng awon niku kulo, kulo makhluk niku Kyai’’

Zaid berkata dengan tertunduk dihadapan Kyai, kemudian terdengar suara tawa ringan dari beliau, membuat Zaid sedikit bingung

‘’alhamdulillah, wes nak, pancen bener awakmu, ilmu mu wes cukup, mulih o gapopo, aku wes Ridho’’ ujar sang Kyai ikhlas,

mendengar itu Zaid benar-benar merasa lega karenanya, Zaid pun meminta barokah do’a dan nasehat beliau untuk bekalnya pulang nanti.

 

SELESAI

 

Karya: Khalila Chandra (santriwati kelas XII MA Bidayatul Hidayah)

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment