Memahami dan Mengamalkan Isi Kandungan Al-Qur’an oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.
(عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيْهِ الْبَسَ اللَّهُ وَالِدَيْهِ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ اَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا. فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟ (رواه ابوداود
“Dari Mu’adz bin Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya, maka Allah akan memakaikan kepada kedua orang tuanya nanti pada hari kiamat sebuah mahkota yang sinarnya lebih baik daripada sinar matahari di rumah-rumah dunia. (Ini balasan orang tuanya yang tidak ikut membaca dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an). Lalu balasan apa yang kamu bayangkan bagi yang melakukan hal ini?”
Kiranya semua umat Islam di dunia mengakui bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab petunjuk dari Allah yang dijamin kebenarannya dan kecocokannya sepanjang masa, untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.
Akan tetapi alangkah sedikitnya umat Islam yang mau dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur’an sampai ke jenjang pemahaman dan pengalaman. Jangankan orang Islam secara umum, orang yang sudah mengkhususkan diri untuk belajar Al-Qur’an di pondok atau perguruan Al-Qur’an pun masih banyak yang berhenti sebelum sampai pada tujuan utama yakni penghayatan dan pengalaman.
Sementara yang tercapai pada umumnya hanyalah: keahlian dalam ilmu tajwid, keahlian dalam seni lagu dan suara, keahlian dalam hafalan, keahlian dalam membaca yang banyak, keahlian dalam kaligrafi Al-Qur’an dan kadang-kadang ada yang mencapai keahlian perdukunan dengan Al-Qur’an. Sedangkan keahlian yang paling dibutuhkan yaitu pemahaman (tafsir) dan pengalaman sangatlah sedikit dihasilkan oleh umat Islam.
Hal semacam ini jelas merupakan keprihatinan bagi seluruh umat Islam baik yang hafal Al-Qur’an ataupun tidak, dan sekaligus merupakan kerugian bagi para pencari pahala sekalipun tidak sampai ke tingkatan “bangkrut”. Yang dimaksud kerugian di sini adalah kurang banyaknya keuntungan yang kita peroleh dari Al-Qur’an. Karena semua telah sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kitab petunjuk Allah yang mesti dibaca, dipahami dan diamalkan.
Kita (para huffadh) masih boleh berharap banyaknya pahala dari Al-Qur’an, yakni dari jerih payah kita menghafal, dari banyaknya kita membaca, dari kecintaan kita kepada Al-Qur’an dan dari keikhlasan kita mengajarkan Al-Qur’an. Sekalipun kita membaca يَقرَؤُهُ وَيَغِيْرُ عَمَل (tanpa pemahaman dan tanpa pengalaman). Asal jangan sampai kelakuan kita bertolak belakang dengan isi kandungan Al-Qur’an. Dengan kata lain, masih mendingan kalau kita tergolong فمنهم مقتصد (di antara mereka ada yang sedang) sekalipun tidak bisa mencapai فمنهم سابق بالخيرات (di antara mereka ada yang menjadi pembalap dalam kebaikan), asal kita tidak termasuk فمنهم ظالم لنفسه (di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri).
Kalau sampai kita tergolong penganiaya diri sendiri dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan, sampai kejelekan kita lebih banyak daripada kebaikan kita, maka Al-Qur’an yang kita harap-harap sebagai pembela (pemberi syafa’at) kita akan berbalik menjadi penuntut kita di hadapan Tuhan Yang Maha Adil.
عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، فَمَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ
“Dari Ibnu Mas‘ud r.a., beliau berkata: Al-Qur’an itu pemberi syafa’at yang pasti diterima syafa’atnya dan sekaligus pelapor (penuntut) yang pasti dibenarkan laporannya. Barang siapa menjadikan Al-Qur’an di depannya, maka ia akan menuntunnya ke surga dan barang siapa yang menjadikan Al-Qur’an di belakangnya, maka ia akan menggiringnya ke neraka.”

