Target Ramadhan: Memperberat Amal, Memperhalus Iman
Oleh: KH. Muhammad. Fathoni Dimyathi, Lc.
Ramadhan Karim sering kita artikan sebagai Ramadhan yang mulia. Namun kata karim juga mengandung makna murah atau dermawan. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa, (حَقَّ تُقَاتِهِ). Takwa yang tidak setengah-setengah, tidak musiman, dan tidak sekadar formalitas. Takwa yang melibatkan kesungguhan hati, keseriusan amal, dan konsistensi dalam ketaatan.
Ketika perintah (حَقَّ تُقَاتِهِ) ini kita tempatkan dalam suasana Ramadhan Karim, maka maknanya menjadi semakin dalam. Ramadhan disebut karim bukan hanya karena kemuliaannya, tetapi karena kemurahan Allah di dalamnya. Allah memudahkan jalan takwa, melipatgandakan pahala, dan membuka peluang besar bagi hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Takwa yang sungguh-sungguh selalu berbuah pada amal yang nyata, dan amal itulah yang kelak akan ditimbang oleh Allah. Allah berfirman:
فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Maka siapa yang berat timbangan amalnya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”
Allah tidak hanya menyebutkan orang-orang yang berat timbangan amalnya, tetapi juga memperingatkan dengan sangat tegas tentang kebalikannya:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
Artinya: “Dan barang siapa ringan timbangan amalnya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.”
Sejalan dengan itu, dalam Tafsir Al-Munir, dijelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam amal ketaatan (al-‘āmilūn), yang memanfaatkan kesempatan Ramadhan dengan iman dan keikhlasan, termasuk golongan hamba yang mendapatkan keistimewaan luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang amalnya bukan sekadar banyak secara kuantitas, tetapi juga berat secara kualitas. Karena kesempurnaan iman dan amal tersebut, Allah memberikan karunia khusus berupa masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum strategis untuk memperberat timbangan amal, agar seorang hamba tidak hanya selamat, tetapi juga memperoleh kemuliaan tertinggi di sisi Allah.
Dalam sebuah kaidah yang masyhur disebutkan bahwa, siapa yang dihisab secara detail, maka ia akan merasakan azab. Maka dari sini menjadi jelas bahwa cita-cita terbaik seorang mukmin, terlebih bagi para penghafal Al-Qur’an, bukan sekadar banyaknya amal atau hafalan semata, melainkan meraih derajat tertinggi di sisi Allah yaitu masuk surga bi ghairi hisab.
Kesadaran akan beratnya hisab dan dahsyatnya akhirat inilah yang pernah ditegaskan langsung oleh nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda:
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
Artinya: Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menceritakan peristiwa ketika beliau menaiki mimbar. Pada setiap anak tangga, Rasulullah SAW mengucapkan “Amin”. Ketika para sahabat bertanya, beliau menjelaskan bahwa malaikat Jibril datang dan menyampaikan doa.
Malaikat Jibril berdoa agar merugi seorang hamba yang ketika nama Rasulullah SAW disebut, namun ia tidak bershalawat kepadanya. Kemudian Jibril berdoa agar merugi seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satu dari keduanya, namun tidak berbakti hingga keduanya tidak menjadi sebab masuknya ia ke dalam surga. Lalu Jibril berdoa agar merugi seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi tidak memperoleh ampunan atas dosa-dosanya.
Semua peringatan ini menegaskan, iman tidak cukup dimiliki, tetapi harus dimaksimalkan agar Ramadhan benar-benar berbuah ampunan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa sebagian orang tidak langsung masuk surga, karena masih membawa dosa yang belum disucikan, sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum layak menikmati kenikmatan surga. Tetapi, ada orang yang didunia saja dosanya bersih, lantas siapakah mereka?
- Orang yang suka memperbanyak amal baik, beristighfar, dan sering bertaubat
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk membersihkan dosa sejak di dunia. Maka siapa yang memaksimalkan iman dan amalnya, ia berharap termasuk golongan yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih, dan layak meraih kemuliaan masuk surga tanpa hisab.




