How to Be Pretty Menurut Al-Qur’an
Cantik hari ini sering terasa melelahkan. Standarnya berubah cepat, tuntutannya tinggi, dan ukurannya seakan tak pernah cukup. Media sosial penuh dengan wajah sempurna, tubuh ideal, dan hidup yang tampak tanpa cela. Tanpa sadar, banyak dari kita jadi sering membandingkan diri, merasa kurang, lalu lelah mengejar validasi.
Di tengah semua itu, cantik sering disempitkan hanya pada rupa. Seolah nilai seorang perempuan ditentukan dari apa yang terlihat, bukan dari siapa dirinya. Padahal, berapa banyak yang sudah “cantik” secara visual, tapi tetap merasa kosong, insecure, bahkan kehilangan rasa percaya diri.
Lalu muncul pertanyaan penting: jika cantik versi manusia terus berubah dan melelahkan, bagaimana sebenarnya Al-Qur’an memandang kecantikan?Apakah Islam juga menilai cantik dari apa yang tampak, atau ada makna yang lebih dalam dan menenangkan?
Membicarakan kecantikan memang sangat identik dengan kaum perempuan. Sejak dahulu kecantikan sudah dikonstruksikan oleh masyarakat dan menjadi kontrol sosial bagi perempuan. Konstruksi sosial tersebut membentuk persepsi perempuan akan standar kecantikan yang ideal dan diakui di masyarakat. “Menjadi perempuan” berarti menjadi cantik, dan sebaliknya tidak cantik sangatlah tidak perempuan dan cantik adalah kata yang sebagian besar mengacu pada sifat fisikal, maka kecantikan hanyalah ornamen, bukan keanggunan yang sesungguhnya. Kecantikan perempuan masih menjadi komoditas media massa. Hal ini membuat perempuan menjadikan standar tersebut menjadi kiblat kencantikan.[1]
Islam hadir dengan membawa ajaran yang mulia, memberikan perhatian besar terhadap hak dan kehormatan wanita. kecantikan sejati dalam Islam mencakup keindahan lahiriah dan bathiniah, termasuk kebaikan hati, jiwa, dan perilaku. Allah tidak pernah menjadikan rupa sebagai ukuran kemuliaan manusia. Hanya saja saat ini kecantikan yang ideal seringkali memberi tekanan pada perempuan, yang kemudian akan menimbulkan obsesi untuk mencapai gambaran ideal untuk menjadi cantik. Hal inilah yang akan membuat seseorang melakukan segala hal untuk membuat penampilan fisiknya menarik seperti keinginannya. Karena bagi perempuan, penampilan fisik yang menarik akan menentukan kesan yang membentuk dirinya dan menentukan bagaimana hubungannya dengan orang lain. Kenyataannya, tidak semua perempuan memiliki sosok tesebut, sehingga satu-satunya cara untuk memenuhi standar kecantikan tersebut adalah memodifikasi tubuhnya, baik melalui riasan, diet, operasi, atau bedah kosmetik, faktanya mereka melakukan segalanya untuk memenuhi standar kecantikan yang di pengaruhi oleh beberapa budaya dari beberapa Negara. [2]
Di dunia yang sibuk menilai wajah, tubuh, dan penampilan, Al-Qur’an datang dengan sudut pandang yang sangat berbeda. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini turun bukan untuk membahas fisik, bukan pula status sosial, apalagi standar kecantikan. Yang Allah nilai adalah takwa yaitu sesuatu yang tidak bisa difilter, tidak bisa dipoles, dan tidak bisa dipamerkan.
Rasulullah SAW juga menegaskan hal yang sama
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, dan sering dijadikan landasan utama bahwa nilai manusia di sisi Allah ditentukan oleh batin dan perbuatan, bukan penampilan lahiriah.
Jika Al-Qur’an dan Rasulullah telah menegaskan bahwa rupa bukan ukuran kemuliaan, maka kecantikan dalam Islam sejatinya berpindah dari wajah menuju hati. Cantik bukan lagi sesuatu yang dikejar untuk dinilai manusia, melainkan sesuatu yang tumbuh karena kedekatan dengan Allah. Takwa, hati yang bersih, dan amal yang baik mungkin tidak selalu terlihat oleh mata manusia, tetapi justru itulah yang paling bernilai di sisi Allah. Kecantikan semacam ini tidak lekang oleh usia, tidak pudar oleh waktu, dan tidak runtuh oleh komentar orang lain. Ia memberi ketenangan, bukan kecemasan memberi rasa cukup, bukan obsesi.
Dalam Islam, kecantikan tidak dibangun dari tuntutan menjadi sempurna, tetapi dari kesadaran bahwa setiap manusia diciptakan Allah dalam bentuk terbaiknya. Islam memandang kecantikan berdasarkan keterampilan, kecerdasan, dan ketaqwaan terhadap aturan Allah SWT. Setelah menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari rupa, Islam tidak mengabaikan pentingnya penampilan. Islam mengajarkan keseimbangan yaitu tidak berlebihan memuja fisik, tapi juga tidak meremehkannya.
Islam tidak melarang merawat diri. Menjaga kebersihan, kerapian, dan tampil pantas adalah bagian dari adab seorang Muslim. [3]Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang rapi, bersih, dan menyukai wewangian. Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no. 91)
Di sinilah Islam memberi batas yang jelas. Merawat diri bisa menjadi ibadah, tetapi mengubah diri demi pengakuan orang lain adalah jebakan. Cantik dalam Islam bukan kewajiban untuk selalu sempurna, melainkan amanah yang dijaga dengan rasa syukur dan tanggung jawab.
Kecantikan yang ditawarkan Islam bukan kecantikan yang menekan, melainkan membebaskan. Ia membebaskan perempuan dari keharusan selalu tampil sempurna, dari rasa takut tidak diterima, dan dari kecemasan akan penilaian manusia. Ketika cantik didefinisikan sebagai takwa dan amal, perempuan tidak lagi hidup dalam kompetisi fisik, tetapi dalam perjalanan spiritual menuju ridha Allah. Inilah kecantikan yang menghadirkan ketenangan batin, bukan kelelahan mental.
Di era media sosial, ketika standar kecantikan diproduksi tanpa henti, Islam hadir sebagai penyeimbang yang menenangkan. Al-Qur’an tidak meminta perempuan berhenti merawat diri, tetapi mengajarkan agar kecantikan tidak menjadi sumber luka. Dengan menjadikan takwa sebagai pusat nilai, perempuan dapat berdamai dengan dirinya sendiri, menerima keterbatasan, dan tetap tumbuh menjadi pribadi yang utuh indah di mata Allah dan bermakna bagi sesama.
Cantik menurut Al-Qur’an tidak sama dengan cantik menurut tren. Tren berubah, standar dunia bergeser, dan validasi manusia tak pernah benar-benar puas. Namun Al-Qur’an datang dengan ukuran yang tetap: hati yang bersih, iman yang hidup, dan amal yang nyata. Islam tidak merampas keindahan, tetapi memulihkan maknanya. Cantik tidak lagi menjadi beban yang harus dikejar, melainkan nilai yang tumbuh dari ketaatan, akhlak, dan ketenangan jiwa. Keindahan bukan sesuatu yang dipamerkan untuk diakui manusia, tetapi dipelihara untuk diridhai Allah. Karena itu, seorang perempuan tidak kehilangan nilai meski tidak memenuhi standar dunia. Nilainya tidak gugur hanya karena wajahnya biasa, tubuhnya tidak sempurna, atau hidupnya tak sesuai algoritma media sosial. Selama ia menjaga iman, akhlak, dan martabatnya, ia tetap mulia di sisi Allah. Di sinilah Al-Qur’an menenangkan, bahwa cantik bukan tentang siapa yang paling dilihat, tetapi tentang siapa yang paling bernilai di hadapan-Nya.
[1] Ayustin Budi Hapsari dan Puspita Sari Sukardani, “Representasi Konsep Kecantikan Perempuan di Era Millennials melalui Beauty Influencer pada Media Sosial Instagram” (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya), hlm. 60
[2] Syahallah Chinta W, dkk. “Dampak Standar Kecantikan Bagi Perempuan di Indonesia”, Jurnal UNESA, 2023, hlm. 1441.
[3] Ellite Millenitta Umbarani dan Agus Fakhruddin, “Konsep Mempercantik Diri dalam Prespektif Islam dan Sains,” Dinamika Sosial Budaya Vol. 23, No. 1 (Juni 2021): 115–125




