Empati yang mulai mati, ketika derita orang lain cuma jadi berita

Kita hidup di zaman di mana derita manusia hadir setiap hari di layar. Seperti, perang, bencana, tangis, dan kehilangan. Semuanya lewat dalam satu gerakan jari. Kita berhenti sejenak, membaca judulnya, mungkin menghela napas, lalu scroll lagi. Bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu sering melihat luka. Berita duka datang silih berganti, sementara ingatan kita semakin singkat. Yang hari ini terasa menyayat, besok tinggal arsip. Tragedi berubah jadi konten, penderitaan jadi latar belakang rutinitas harian. Kita merasa sudah cukup peduli hanya dengan tahu, merasa sudah ikut merasakan hanya dengan membaca. Padahal, setelah layar terkunci, hidup kita tetap berjalan seperti biasa. Tak ada yang benar-benar berubah. Tangisan di belahan dunia lain kalah cepat dari notifikasi hiburan berikutnya. Di titik inilah empati pelan-pelan bergeser, dari rasa yang hidup, menjadi reaksi sesaat, hadir sebentar, lalu hilang tanpa bekas. Dan tanpa kita sadari, yang perlahan mati bukan hanya kepedulian kita, tapi juga kepekaan sebagai manusia.

Dalam psikologi sosial, kondisi mati rasa terhadap penderitaan orang lain dikenal sebagai compassion fatigue. Compassion fatigue merupakan kondisi kelelahan emosional yang dialami individu akibat keterlibatan empatik secara terus-menerus terhadap penderitaan orang lain, yang berdampak pada penurunan empati. keadaan kelelahan dan gangguan fungsi secara biologis, psikologis, dan social, sebagai akibat dari paparan berkepanjangan terhadap stres akibat kepedulian.[1] Fenomena compassion fatigue menjelaskan bagaimana empati manusia dapat terkuras akibat paparan penderitaan yang berulang. Namun, jauh sebelum istilah ini dikenal dalam psikologi, Al-Qur’an telah mengingatkan bahaya hati yang mengeras dan kehilangan kepekaan sosial.

Al-Qur’an menyebut bahwa hati dapat mengeras bukan karena satu kesalahan besar, tetapi karena waktu yang berlalu tanpa kesadaran, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 16:

Baca Juga  Baitul Maqdis: Menelusuri nilai iman dan pengorbanan di tanah para Nabi

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۚ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan terhadap kebenaran yang telah diturunkan, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik.”

Ayat ini menyoroti bagaimana hati dapat mengeras seiring waktu, sebuah gambaran yang sejalan dengan konsep kelelahan empati akibat paparan penderitaan yang berulang.

Secara biologis dan kognitif, otak manusia tidak dirancang untuk menerima rangsangan penderitaan secara masif dan simultan. Paparan berulang terhadap berita kekerasan, bencana, dan krisis kemanusiaan dapat memicu respons stres kronis, yang kemudian mendorong mekanisme perlindungan diri berupa penarikan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa alih-alih meningkatkan kepedulian, banjir informasi justru dapat menurunkan sensitivitas empatik karena individu mengalami kelelahan afektif (emotional exhaustion). Di era media digital, proses ini berlangsung semakin cepat. Informasi tentang penderitaan hadir secara instan, berulang, dan sering kali tanpa konteks mendalam. Studi dalam kajian media menyebutkan bahwa konsumsi berita negatif yang berlebihan dapat menyebabkan desensitization, yakni kondisi ketika individu menjadi kurang responsif terhadap penderitaan orang lain. Akibatnya, empati tidak lagi berfungsi sebagai dorongan untuk bertindak, melainkan berubah menjadi reaksi sesaat yang cepat muncul dan sama cepatnya menghilang.[2]

Desensitisasi empatik akibat paparan penderitaan yang berulang tidak hanya berdampak pada kondisi emosional individu, tetapi juga membentuk pola perilaku sosial. Ketika empati tidak lagi diikuti oleh tindakan, penderitaan orang lain berisiko dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh, asing, dan tidak berkaitan dengan tanggung jawab pribadi. Dalam konteks ini, manusia mengetahui banyak hal, tetapi merasakan semakin sedikit.

Baca Juga  Pengaruh Membaca Al-Qur'an Terhadap Psikologis

Pengalaman kolektif masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bagaimana empati dapat mengalami kelelahan. Pada masa pandemi COVID-19, masyarakat setiap hari dihadapkan pada kabar kematian, rumah sakit penuh, dan kehilangan orang terdekat. Belum sepenuhnya pulih, berbagai bencana alam seperti banjir besar di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera kembali memenuhi ruang media. Di tengah rangkaian krisis yang datang silih berganti, sebagian masyarakat mulai merasa lelah secara emosional. Tragedi yang sebelumnya menggugah empati perlahan berubah menjadi berita yang dilewati sekilas, bukan karena kurangnya kepedulian, tetapi karena beban psikologis yang terus menumpuk.

Islam tidak memandang empati sekadar sebagai respons emosional, tetapi sebagai bagian dari iman. Al-Qur’an berulang kali mengaitkan keimanan dengan kepedulian sosial, sebagaimana tergambar dalam QS. Al-Ma’un ayat 1-3:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Artinya: Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Dimana Al-Qur’an mengaitkan pendustaan terhadap agama dengan sikap abai terhadap anak yatim dan orang miskin, menunjukkan bahwa keimanan tidak dapat dipisahkan dari kepekaan sosial. Dalam perspektif ini, kepekaan terhadap derita orang lain bukan pilihan moral, melainkan kewajiban spiritual. Jika psikologi menyebut kelelahan empati sebagai dampak dari paparan berlebihan, Islam mengajarkan pemulihan empati melalui kesadaran hati. Zikir, refleksi, dan pembatasan diri dari konsumsi informasi yang berlebihan menjadi cara untuk menjaga hati tetap hidup. Empati tidak harus lahir dari mengetahui segalanya, tetapi dari kesediaan untuk benar-benar hadir pada penderitaan yang mampu kita tanggung. Pada akhirnya, empati yang dijaga bukanlah empati yang melelahkan, melainkan empati yang bermakna. Empati yang tidak berhenti pada rasa iba sesaat, tetapi mendorong kesadaran, doa, dan tindakan nyata sesuai kemampuan.

Baca Juga  Al-Qur'an di Tengah Tantangan Globalisasi: Menjaga Identitas dan Nilai-nilai

Kepekaan terhadap penderitaan orang lain bukanlah sesuatu yang muncul tanpa batas. Di tengah arus informasi yang padat dan krisis yang datang silih berganti, manusia kerap menarik diri sebagai cara untuk melindungi batin. Sikap ini wajar, namun berisiko jika dibiarkan terus-menerus, karena perlahan mengubah kepedulian menjadi jarak, dan perhatian menjadi sekadar pengetahuan tanpa keterlibatan.Islam memandang kepekaan sosial sebagai bagian dari kualitas iman yang perlu dirawat. Bukan dengan menyerap seluruh kabar duka yang ada, melainkan dengan menjaga hati agar tetap sadar dan bertanggung jawab. Membatasi konsumsi informasi, memberi ruang untuk refleksi, serta memilih bentuk kepedulian yang realistis menjadi langkah penting agar rasa kemanusiaan tidak terkikis oleh kelelahan. Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan reaksi emosional sesaat, tetapi kesadaran yang konsisten. Kesadaran untuk tetap peduli tanpa harus larut, untuk mengetahui tanpa menjadi kebal, dan untuk bertindak meski dalam lingkup yang kecil. Dari sikap inilah nilai kemanusiaan tetap terjaga, meski dunia terus bergerak cepat dan penuh luka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Figley, C. R. (1995). Compassion fatigue: Coping with secondary traumatic stress disorder in those who treat the traumatized. New York, NY: Brunner/Mazel. Diakses melalui Google Books.

[2] American Psychological Association (APA). (2019). Stress effects on the body. Diakses melalui Google Books.

 

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar