Self Improvement atau Self Pressure? Ketika Keinginan Bertumbuh Justru Membuat Beban

Di era media sosial, istilah self improvement semakin populer di kalangan masyarakat. Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi lebih produktif, lebih pintar, lebih sukses, dan lebih baik dari hari ke hari. Berbagai konten motivasi bermunculan dengan pesan yang sama, jangan pernah berhenti berkembang.

“Harus produktif setiap hari.”

“Harus punya banyak prestasi.”

“Harus lebih baik dari yang kemarin.”

Kalimat-kalimat seperti di atas sering kita dengar di era digital. Melalui media sosial, kita disuguhkan berbagai kisah kesuksesan, pencapaian akademik, bisnis yang berkembang di usia muda, hingga rutinitas produktif yang tampak sempurna. Tanpa sadar, semua itu membentuk standar tertentu yang membuat banyak orang merasa harus terus berlari tanpa henti.

Pada dasarnya, keinginan untuk memperbaiki diri adalah hal yang baik. Islam juga mendorong umatnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Namun, tanpa disadari, semangat untuk bertumbuh terkadang berubah menjadi tekanan yang melelahkan. Seseorang yang awalnya ingin menjadi lebih baik mulai merasa tidak cukup. Ketika melihat orang lain berprestasi, ia merasa tertinggal. Ketika target tidak tercapai, ia merasa gagal. Bahkan saat beristirahat, ia justru dihantui rasa bersalah karena merasa tidak produktif. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai self-pressure.

Lalu, apa yang dimaksud dengan self-pressure itu? Dalam psikologi, kondisi yang sering disebut sebagai self-pressure lebih dikenal sebagai self-imposed pressure, yaitu tekanan yang diciptakan oleh diri sendiri akibat tuntutan dan ekspektasi pribadi yang terlalu tinggi. Apabila berlangsung secara terus-menerus, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi stres psikologis dan memengaruhi kesehatan mental.[1]

Padahal, kehidupan bukanlah perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai garis finish pada waktu yang sama. Setiap orang pasti memiliki kemampuan, kesempatan, dan ujian yang berbeda-beda. Apa yang tampak mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi orang lain. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 286:

Baca Juga  Did You Know? Pengaruh Membaca Al-Qur'an terhadap Kecerdasan Emosional

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki batas kemampuan yang berbeda. Karena itu, keinginan untuk berkembang tidak boleh berubah menjadi tekanan yang berlebihan. Islam mengajarkan keseimbangan antara berusaha dengan sungguh-sungguh dan memahami kapasitas diri yang telah Allah tetapkan.

Rasulullah saw. juga mengajarkan pentingnya melakukan kebaikan secara bertahap dan konsisten. Amal yang paling dicintai Allah bukanlah yang paling banyak, melainkan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Prinsip ini mengajarkan bahwa pertumbuhan tidak selalu harus besar dan spektakuler. Seperti membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari, memperbaiki satu kebiasaan buruk, atau menambah satu pengetahuan baru juga merupakan bentuk kemajuan yang berharga.

Self improvement yang sehat juga berawal dari growth mindset, yaitu keyakinan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang melalui proses belajar, usaha, dan pengalaman. Seseorang yang memiliki growth mindset tidak mengukur nilai dirinya dari seberapa cepat ia berhasil, melainkan dari seberapa besar kemauannya untuk terus belajar dan berkembang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi growth mindset seseorang, semakin rendah tingkat stres akademik yang dialaminya.[2]

Namun, yang kerap terjadi saat ini adalah banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses. Mereka ingin segera mencapai target, mendapatkan pengakuan, atau menyamai pencapaian orang lain. Akibatnya, proses belajar dan berkembang yang seharusnya dinikmati justru berubah menjadi beban. Ketika target tercapai, mereka merasa belum cukup. Ketika target gagal dicapai, mereka merasa tidak berharga. Siklus inilah yang sering membuat seseorang terjebak dalam kelelahan fisik maupun mental.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak prestasi yang berhasil diraih. Dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari keberhasilannya di dunia, tetapi juga dari ketakwaan dan kesungguhannya dalam berusaha. Allah Swt. lebih melihat proses, niat, usaha, dan kesungguhan seorang hamba, bukan sekadar hasil yang tampak di hadapan manusia.[3]

Baca Juga  Menghafal Al-Qur'an dengan Bijak: Manajemen Waktu Adalah Kunci Kesuksesan!

Selain itu, media sosial juga perlu disikapi dengan bijak. Apa yang kita lihat di layar sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita tidak melihat perjuangan, kegagalan, maupun kesulitan yang mereka alami di balik pencapaian tersebut. Karena itu, membandingkan seluruh perjalanan hidup kita dengan potongan kehidupan orang lain hanya akan menumbuhkan rasa kurang dan ketidakpuasan kepada diri sendiri.

Maka, daripada terus membandingkan diri kita dengan orang lain, lebih baik kita membandingkan diri dengan versi diri kita yang kemarin. Apakah hari ini kita lebih rajin beribadah? Apakah hari ini kita lebih sabar? Atau apakah hari ini kita telah belajar sesuatu yang baru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu kita bertumbuh dengan cara yang lebih sehat dan realistis.

Pada akhirnya, self improvement yang sejati bukanlah tentang menjadi manusia yang sempurna, melainkan tentang menjadi pribadi yang terus bertumbuh dan belajar dari setiap pengalaman. Jangan sampai semangat untuk berkembang berubah menjadi tekanan yang menguras energi dan kebahagiaan. Selama kita terus melangkah, sekecil apa pun langkah tersebut, itu sudah merupakan bentuk kemajuan yang patut disyukuri. Bertumbuhlah dengan sehat, nikmati setiap prosesnya, dan percayalah bahwa Allah telah menetapkan jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya. Sebab, perjalanan menuju versi terbaik diri kita bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin, melainkan perjalanan yang sangat panjang dan membutuhkan kesabaran, keikhlasan, istiqamah, syukur, dan ketekunan.

 

 

 

 

 

[1] Putra, S. D. (2018). Uji Validitas Konstruk Pada Instrumen Student-Life Stress Inventory Dengan Metode Confirmatory Factor Analysis. Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia (JP3I).

[2] Khilma, H. A., & Utami, N. I. (2023). Growth Mindset dan Stres Akademik pada Siswa SMA di Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Edukatif.

Baca Juga  Tantangan Guru dalam Menyampaikan Ajaran Al-Qur'an kepada Siswa di Era Digital

[3] Mubarak, A. (2020). Konsep Ikhlas dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Jurnal Al-Tadabbur.

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar