Memaknai Muharram, Bulan Mulia Penuh Keberkahan

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT (asyhurul hurum). Kehadiran bulan ini menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk membuka lembaran baru dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, serta melakukan evaluasi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Sebagai awal tahun Hijriah, Muharram tidak hanya menandai pergantian waktu, tetapi juga mengingatkan setiap Muslim untuk terus memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Kemuliaan Muharram sesungguhnya telah dikenal jauh sebelum datangnya Islam. Kata Muharram berasal dari kata yang berarti “diharamkan” atau “disucikan”. Pada masa Jahiliyah, masyarakat Arab telah memandang bulan ini sebagai bulan yang mulia sehingga berbagai bentuk peperangan dan persengketaan dihentikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesuciannya. Ketika Islam datang, kemuliaan bulan-bulan haram tetap dipertahankan dan ditegaskan kembali oleh syariat, sementara tradisi-tradisi Jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Islam dihapuskan.

Al-Qadhi Abu Ya’la menjelaskan bahwa Muharram disebut sebagai bulan haram karena dua alasan. Pertama, pada bulan tersebut dilarang melakukan peperangan dan pertumpahan darah, bahkan masyarakat Arab sebelum Islam pun meyakini hal tersebut. Kedua, larangan melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan ini lebih ditekankan dibandingkan bulan-bulan lainnya karena kedudukannya yang mulia. Sebaliknya, amal ketaatan dan berbagai bentuk kebaikan sangat dianjurkan untuk diperbanyak.[1]

Sebagai bulan yang dimuliakan, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain memperbanyak amalan-amalan yang bersifat personal, umat Islam juga dianjurkan untuk memperkuat kepedulian sosial melalui sedekah, infak, dan berbagai bentuk bantuan kepada sesama. Semangat berbagi merupakan salah satu wujud nyata ajaran Islam yang mengedepankan solidaritas, kebersamaan, dan kesejahteraan sosial. Kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat harmoni kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga  How to Be Pretty Menurut Al-Qur’an

Di samping itu, Muharram juga menjadi momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Muhasabah merupakan proses mengevaluasi perilaku, ibadah, serta berbagai aktivitas yang telah dilakukan agar seseorang dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas dirinya pada masa yang akan datang. Dengan melakukan muhasabah, seorang Muslim dapat menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawabnya kepada Allah SWT sekaligus memperkuat komitmennya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.[2]

Dalam konteks masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, Muharram lebih dikenal dengan sebutan bulan Suro. Kehadiran bulan ini sering disambut dengan berbagai tradisi yang sarat nilai religius dan sosial, seperti pengajian, pawai obor, doa bersama, santunan anak yatim, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tradisi tersebut merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam yang berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat.

Namun demikian, di sebagian daerah masih berkembang anggapan bahwa bulan Suro merupakan bulan yang membawa kesialan sehingga dianggap kurang baik untuk melaksanakan pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Kepercayaan semacam ini tidak memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an maupun hadis. Islam tidak mengenal konsep bulan sial, sebab seluruh waktu adalah ciptaan Allah SWT yang memiliki nilai kebaikan apabila dimanfaatkan untuk beramal saleh. Justru Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan dianjurkan untuk diisi dengan berbagai bentuk ibadah serta perbuatan baik.

Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memaknai Muharram sebagai momentum spiritual untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, dan melakukan muhasabah diri. Tradisi yang mengandung nilai-nilai positif dapat terus dilestarikan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun Hijriah, tetapi juga menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menebarkan manfaat bagi sesama.[3]

Baca Juga  Ekologi dalam Al-Qur'an: Apakah Islam Mengajarkan Aktivisme Lingkungan?

Bulan Muharram merupakan anugerah Allah SWT yang penuh dengan keberkahan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan, Muharram mengajarkan umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui peningkatan ibadah, sekaligus mempererat hubungan dengan sesama melalui kepedulian sosial dan amal kebajikan. Momentum pergantian tahun Hijriah hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perubahan angka dalam kalender, tetapi juga sebagai awal untuk melakukan hijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dengan memahami makna dan keutamaan Muharram secara benar, umat Islam dapat mengisi bulan ini dengan berbagai amalan yang mendatangkan pahala dan keberkahan. Semoga Muharram menjadi titik awal bagi setiap Muslim untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian kepada sesama demi meraih ridha Allah SWT.

 

 

[1] Ahmad Khairuddin, Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan, hlm. 2.

 

[2] Mutmainnah, Dewi. “The Analysis of the Roles of Muraqabah and Muhasabah as Internal Hisbah Instruments to Enhance Sharia Compliance in Islamic Business.” Bisman (Bisnis dan Manajemen), Vol. 7, No. 1, 2023.

 

[3] Ahmad Choirul Rofiq, “Proses Kontinuitas dan Perubahan dalam Menyucikan Bulan Suci Muharram pada Tradisi Suroan,” Cogent Arts & Humanities, Vol. 11, No. 1 (2024), DOI: 10.1080/23311983.2024.2335779.

 

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar