Scroll Tanpa Henti, Hati Kehilangan Arti: Petunjuk Al-Qur’an di Era Digital
Pada zaman digital saat ini, jari tangan kita seolah tak pernah berhenti bergerak. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, layar ponsel menjadi sahabat setia yang selalu menemani. Beranda yang tak ada habisnya, video pendek yang terus berganti, dan berbagai informasi datang silih berganti hanya dalam sekali usapan layar. Tanpa disadari, aktivitas scrolling yang awalnya hanya beberapa menit sering kali berubah menjadi berjam-jam. Dunia digital berhasil membuat kita selalu terhubung, tetapi tidak selalu membuat kita merasa lebih dekat dengan kebahagiaan.
Ironisnya, di tengah kemudahan akses informasi dan komunikasi, banyak orang justru mengeluhkan rasa cemas, gelisah, dan kesepian yang sulit dijelaskan. Semakin banyak konten yang dikonsumsi, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk merenung, berinteraksi secara nyata, atau bahkan mendekatkan diri untuk beribadah kepada Allah. Kita mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi sering kali kehilangan waktu untuk memahami diri sendiri. Di saat yang sama, perhatian kita tersita oleh berbagai hal yang sedang viral sehingga lupa memperhatikan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa lelah secara mental, kehilangan fokusnya, hingga merasakan kesepian meskipun selalu terhubung dengan dunia maya.
“Satu video lagi, setelah ini berhenti scroll.”
Kalimat itu mungkin pernah terlintas di benak kita. Namun kenyataannya, satu video terus berganti ke video yang lain, satu unggahan berganti ke unggahan berikutnya, hingga waktu berlalu tanpa terasa. Kita terus mencari hiburan, informasi, atau sekadar pelarian dari rasa bosan. Sayangnya, semakin lama menatap layar, tidak selalu berarti hati menjadi lebih tenang.
Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak berasal dari banyaknya informasi yang kita konsumsi, melainkan dari kedekatan manusia dengan Tuhannya. Oleh karena itu, ketika dunia digital menawarkan hiburan tanpa batas, Al-Qur’an mengajarkan batasan, keseimbangan, dan makna hidup yang sesungguhnya. Di tengah kebiasaan scroll tanpa henti, mungkin yang kita butuhkan bukan konten berikutnya, melainkan petunjuk yang mampu menenangkan hati.
Salah satu penyebab munculnya rasa kosong di tengah derasnya arus informasi adalah karena manusia sering kali memberikan terlalu banyak asupan bagi mata dan pikiran, tetapi melupakan kebutuhan hati. Padahal, hati memiliki peran penting dalam menentukan ketenangan dan kebahagiaan seseorang. Ketika hati jauh dari nilai-nilai spiritual, sebanyak apa pun hiburan yang dikonsumsi tidak akan mampu memberikan ketenangan yang bertahan lama.
Al-Qur’an menawarkan solusi yang sederhana namun maknanya mendalam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya:
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dari banyaknya hiburan atau informasi yang dikonsumsi, melainkan dari dzikir dan kedekatan kepada Allah. Di tengah kebiasaan scroll tanpa henti di era digital, ayat ini menjadi pengingat bahwa hati memiliki kebutuhan yang berbeda dari sekadar hiburan dan kesenangan sesaat.
Selain memberikan ketenangan, Al-Qur’an juga mengajarkan etika dalam menggunakan media sosial. Allah memerintahkan orang beriman untuk memeriksa kebenaran suatu informasi sebelum menyebarkannya. Nilai ini sangat relevan dalam menghadapi maraknya hoaks di media sosial saat ini. Di era digital, seseorang dapat dengan mudah membagikan informasi, komentar, maupun konten kepada ribuan orang dalam waktu singkat. Namun kemudahan tersebut juga membawa risiko berupa hoaks, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, dan berbagai bentuk perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.[1]
Di tengah budaya digital yang serba cepat, Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya mengelola waktu dengan bijak. Setiap detik yang berlalu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebelum menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat berbagai konten, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah yang kita lihat memberikan manfaat atau justru membuat kita semakin lalai?
Teknologi harus tetap berada dalam kendali manusia. Jangan sampai waktu yang berharga habis hanya untuk menonton konten yang tidak memberikan manfaat. Menyisihkan beberapa menit setiap hari untuk membaca Al-Qur’an, mentadabburi maknanya, atau mendengarkan kajian dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat keimanan.
Al-Qur’an bahkan disebut sebagai syifa’ atau obat bagi jiwa. Dalam menghadapi tekanan hidup modern, kecemasan, dan kelelahan mental akibat derasnya arus digital, nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat menjadi sumber penyembuhan spiritual yang menenangkan hati.[2] Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
Dalam kehidupan yang serba cepat seperti sekarang, budaya “takut tertinggal informasi” atau fear of missing out (FOMO) membuat banyak orang terus memantau media sosial tanpa henti. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau beribadah justru habis untuk mengikuti hal-hal yang belum tentu bermanfaat.
Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Kemajuan teknologi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dimanfaatkan dengan bijaksana. Media sosial dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, dan menyebarkan kebaikan apabila digunakan sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kendali, media sosial dapat menyita waktu, perhatian, bahkan ketenangan hati seseorang.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mulai membangun kebiasaan digital yang sehat. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang bermanfaat, serta menyediakan waktu khusus untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh setiap muslim dalam kehidupan sehari hari. Dengan demikian, teknologi tetap dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas ibadah.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah banyaknya informasi yang tersedia, melainkan kemampuan manusia dalam menjaga hati dan mengendalikan dirinya. Ketenangan sejati tidak lahir dari layar yang terus menyala, melainkan dari hati yang senantiasa terhubung dengan Allah. Ketika jari terus bergerak mencari konten baru, jangan lupa memberi ruang bagi hati untuk kembali membaca, memahami, dan mengamalkan petunjuk-Nya. Sebab, di tengah dunia yang semakin ramai dan bising oleh berbagai informasi, Al-Qur’an tetap menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju ketenangan, keseimbangan, dan kebahagiaan yang hakiki.
[1] Anni, D., & Nury, M. Y. (2023). Ketenangan hati perspektif Tafsir Fi Dzilalil Quran (Kajian mental health dalam Alquran). Spiritual Healing: Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi, 4(1), 42–51.
[2] Qithrotun Nida Aulia & Sholahuddin Al Ayubi. Islamic Cyber Youth: Qur’an on Social Media. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.




