Menghafal Al-Qur’an, Untung Atau Rugi? Oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.

Bagian 2

 

(عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ لِلّهِ أَهْلِيْنَ مِنَ النَّاسِ، قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ. (رواه احمد

 

Dari Anas bin Malik ra, dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga dari golongan manusia”, ada yang bertanya “Siapakah mereka itu ya Rasulullah?”, beliau menjawab: “Ahli Qur’an, itulah keluarga Allah dan orang-orang khususnya. (HR. Ahmad).

Hadits diatas adalah salah satu hadits yang menjunjung derajat “ahli Qur’an” dengan setinggi-tingginya dan paling sering dijadikan dalil oleh para ulama’ sebagai bahan promosi menghafal Al-Qur’an. Akan tetapi, lagi-lagi sikap berhati-hati dan tawadlu’ lebih baik daripada terlalu percaya diri dan akhirnya sembrono. Mengapa?

  1. Hadits diatas tidak secara tegas menyebut hafidh / hamil Al-Qur’an akan tetapi “Ahli Qur’an”. Tentu saja sah kalau orang hafidh Al- Qur’an disebut sebagai ahli Qur’an. Akan tetapi, pantaskah orang yang sekedar hafal, tetapi jarang membacanya atau jika membaca tidak memelihara tajwid dan tidak tadabbur, tidak memahami kandungannya, tidak ikhlas, tidak mengamalkannya dan akhlaknya banyak yang bertentangan dengan Al-Qur’an diberi gelar sebagai keluarga Allah yang biasanya diperuntukkan bagi pada para nabi, wali dan malaikat?. Belum lagi kata “Ahli Qur’an” itu sendiri masih patut dipertanyakan maksudnya: Apakah orang-orang yang ahli membaca walaupun tidak hafal? Orang-orang yang hafal sekalipun jarang membaca? Orang- ahli tafsir Al-Qur’an? Orang-orang yang ahli mengamalkan Al-Qur’an? atau orang-orang yang biasa membaca al-Qur’an dengan sekedar seni lagu dan suara?
  2. Sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang saling menafsiri satu sama lain, hadits-hadits Nabi juga dapat saling menafsiri satu sama lain. Kalau hadits diatas menyebut ahli Al-Qur’an secara umum, mungkin sekali ada beberapa hadits lain yang menafsiri atau menjelaskan bahwa yang dimaksud ahli Al-Qur’an dalam hadits diatas adalah orang-orang yang memiliki kriteria tertentu.
Baca Juga  Kajian Ramadhan: Bulan Mencetak Manusia Yang Bertakwa Oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْقُرْآنِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ.

.(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Umar bin Khattab ra., dari Nabi Muhammad SAW beliau berkata: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an ini beberapa kaum, dan dengan Al-Qur’an ini pula merendahkan beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim).

Maksud hadits diatas sangatlah jelas, bahwa ada sebagian manusia yang mendapat berkah dari Al-Qur’an sehingga derajatnya semakin tinggi. Ada pula yang “kualat” karena Al-Qur’an sehingga menjadi hina. Semoga kita tidak termasuk golongan ini. Tetapi bukankah hati-hati dan tawadlu’ itu lebih selamat? Karena siapa tahu jika ternyata derajat seorang hafidh tidak bisa naik karena kurangnya memenuhi tuntutan-tuntutan sebagai hafidh Al-Qur’an?

Setelah kita menelaah dalil-dalil diatas, patutlah kita keluarkan pertanyaan yang besar: “Menghafal Al-Qur’an itu menguntungkan atau merugikan?”. Jawabnya, la’allasshowab: memberi keuntungan yang besar bagi sebagian orang dan memberi kerugian yang besar bagi sebagian orang, sebab ini adalah perdagangan akhirat tingkat tinggi dan menghafal Al-Qur’an bukan pekerjaan yang mudah, apa lagi pemeliharaannya. Sepertinya jaminan-jaminan yang luar biasa tingginya bagi para penghafal Al-Qur’an (seperti kepastian masuk surga, digolongkan sebagai keluarga Allah, dll) memiliki kemiripan dengan jaminan masuk surga bagi siapa saja yang mengucapkan لا إله إلا الله. Sebagaimana hadits Nabi :

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mengucapkan tidak ada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga.”

 

Tapi ternyata mengucapkan kalimat لا إله إلا الله masih memiliki tuntutan-tuntutan (konsekuensi) yaitu mengamalkan ajaran Islam. Karena itu pernah diceritakan bahwa suatu ketika Sayyidina Umar marah-marah sampai melempar batu kepada Abu Hurairah yang terus-menerus berkampanye di pasar-pasar dengan mengatakan hadits diatas. Beliau marah karena khawatir jika orang-orang akan menyangka bahwa hanya cukup dengan mengucapkan kalimat لا إله إلا الله tanpa mengamalkan apa-apa, mereka bisa masuk surga.

Baca Juga  Iman yang Menghidupkan, Islam yang Menentramkan, Takwa yang Menenangkan oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.

Waallahu a’lam bisshowab  

                                             

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar