Menapak Jejak Keberkahan, Melanjutkan Estafet Khidmat Qur’an: Yaumut Ta’sis Darul Qur’an ke-12 dan Baitul Qur’an ke-11

Mojogeneng, 15 Agustus 2026. Lantunan ayat suci, gema sholawat, dan doa mengiringi Yaumut Ta’sis sekaligus Milad Asrama Darul Qur’an ke-12 dan Baitul Qur’an ke-11.

Mengusung tema “Menapak Jejak Keberkahan, Melanjutkan Estafet Khidmat Qur’an”, momentum ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi menjadi ruang untuk mengenang perjuangan, menghormati jasa sang guru, serta meneguhkan kembali komitmen dalam menjaga estafet khidmat kepada Al-Qur’an.

Di balik perjalanan Darul Qur’an dan Baitul Qur’an, terdapat ketulusan, kesabaran, dan pengabdian KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc. yang terus membimbing para santri untuk mencintai, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Bagi para santri, perjuangan beliau menjadi teladan bahwa ilmu, pengabdian, dan Al-Qur’an adalah cahaya yang harus terus dijaga dan diteruskan.

Merangkai Doa, Menyatukan Langkah                                            

Rangkaian Yaumut Ta’sis dan Milad Darul Qur’an ke-12 serta Baitul Qur’an ke-11 berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan penampilan nasyid yang menjadi pembuka suasana, sebelum acara kemudian dipandu oleh Master of Ceremony (MC). Lantunan tilawah Al-Qur’an dari santri Darul Qur’an menghadirkan suasana yang teduh sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap langkah perjuangan di lembaga ini berakar pada kalamullah.

Suasana kemudian berlanjut dengan pembukaan acara oleh Ning dr. Millah Muthohharoh S. Pd. dan Agus Lafi Rihabillah melalui prosesi scanning sebagai tanda dimulainya rangkaian puncak Yaumut Ta’sis. Selanjutnya, orasi mengajak seluruh hadirin untuk kembali memahami hakikat pondok di tengah berbagai isu yang sempat menyoroti kehidupan pesantren.

Dalam suasana penuh harap, seluruh hadirin kemudian mengikuti istighosah yang dipimpin oleh Agus Muhammad Abid Muridulloh. Kekhidmatan berlanjut melalui doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh Agus H. Abdurrohman, sebagai ungkapan syukur sekaligus bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang yang telah dilalui. Kemudian, suasana semakin mengharukan dalam Mahallul Qiyam, ketika seluruh hadirin bersama-sama melantunkan sholawat sebagai bentuk cinta dan penghormatan.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Hafalan, Asrama Darul Quran PPBH Mojogeneng Jatirejo Mojokerto Terapkan Metode Sambung Ayat

Sebuah Penghormatan untuk Sang Murobbiruhina              

Salah satu momen yang penuh haru adalah pemberian cinderamata kepada pengasuh sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas segala ilmu, doa, bimbingan, dan pengabdian yang telah diberikan.

Momen tersebut dilanjutkan dengan foto bersama dzurriyah, asatidz, ustadzat, serta keluarga besar Darul Qur’an dan Baitul Qur’an. Kebersamaan yang terabadikan dalam sebuah foto menjadi simbol bahwa perjalanan panjang ini bukanlah perjuangan seorang diri, melainkan perjalanan yang melibatkan banyak hati, doa, dan tangan yang saling menguatkan.

Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc. Dalam nasihatnya, beliau menyampaikan kisah dan makna perjuangan di balik berdirinya pondok, serta pentingnya menjaga amanah, istiqamah, dan khidmat kepada Al-Qur’an. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa perjalanan pondok dibangun melalui doa, pengorbanan, dan keteguhan yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.

Dari Santri, Untuk Perjalanan yang Akan Datang

Kemeriahan acara kemudian hadir melalui berbagai persembahan dari para santri. Tari, drama, hingga puisi kolosal menjadi bagian dari ekspresi kreativitas santri. Setiap penampilan bukan sekadar hiburan. Di dalamnya tersimpan pesan tentang perjuangan, kebersamaan, adab kepada guru, serta harapan agar generasi penerus mampu menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak awal.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pemutaran video dokumenter bertema “Menapak Jejak Keberkahan, Melanjutkan Estafet Khidmat Qur’an”. Dokumenter ini mengangkat biografi pengasuh, KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc., serta jejak perjuangan beliau dalam mendirikan dan mengembangkan pondok, sekaligus mengajak para santri mengenang nilai ilmu, doa, dan pengabdian yang menjadi bagian dari perjalanan Darul Qur’an dan Baitul Qur’an.

Bukan Sekadar Milad, Tetapi Sebuah Amanah

Baca Juga  Yaumut ta’sis, milad asrama Darul Qur’an ke 12 dan asrama Baitul Qur’an ke 11: Gemilang cahaya dan do’a untuk sang Murobbiruhina

Yaumut Ta’sis dan Milad Darul Qur’an ke-12 serta Baitul Qur’an ke-11 akhirnya bukan hanya menjadi perayaan atas bertambahnya usia. Ia menjadi sebuah refleksi tentang dari mana perjalanan ini bermula, siapa yang telah memperjuangkannya, dan ke mana estafet perjuangan ini akan diteruskan.

Tema “Menapak Jejak Keberkahan, Melanjutkan Estafet Khidmat Qur’an” menjadi pengingat bahwa cahaya Al-Qur’an yang hari ini menerangi kehidupan para santri tidak hadir begitu saja. Ada perjuangan panjang yang menjadi sebab lahirnya generasi-generasi Qur’ani.

Kini, estafet itu berada di tangan generasi berikutnya. Para santri bukan hanya penerima manfaat dari sebuah perjuangan, tetapi juga calon penerus yang kelak memiliki amanah untuk membawa nilai-nilai Al-Qur’an lebih jauh. Karena itu, bertambahnya usia Darul Qur’an dan Baitul Qur’an hendaknya menjadi bertambahnya pula semangat untuk belajar, menghafal, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an.

Semoga setiap langkah yang telah ditanamkan oleh para guru menjadi jejak keberkahan yang terus mengalir. Semoga setiap ayat yang dihafalkan, setiap ilmu yang diajarkan, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap generasi yang lahir dari tempat ini menjadi bagian dari amal jariyah yang tidak pernah terputus.

Menapak jejak keberkahan, menjaga cahaya yang telah dinyalakan, dan melanjutkan estafet khidmat Qur’an untuk hari ini, untuk generasi yang akan datang, dan untuk selamanya.

 

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar