Mensyukuri Nikmat Hafal Al-Qur’an Oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.
(قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …. وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَرَأَى أَنْ أَحَدًا أعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَعْطَى فَقَدْ عَظُمَ مَا صَغَرَ اللَّهُ وَصَغَرَ مَا عَظْمَ اللهُ (رواه الطبراني
“Barang siapa yang hafal Al-Qur’an kemudian ia berpandangan bahwa orang lain (yang tidak hafal Al-Qur’an) itu telah diberi oleh Allah sesuatu yang lebih utama daripada sesuatu yang telah diberikan kepadanya, maka sungguh ia telah mengagungkan sesuatu yang dikecilkan oleh Allah dan telah mengecilkan sesuatu yang diagungkan oleh Allah.” (HR. At-Thabrani).
Dari hadits diatas dan hadits-hadits lainnya bisa kita simpulkan bahwa hafal Al-Qur’an itu adalah pemberian yang sangat agung dari Allah SWT. Dan orang yang hafal Al-Qur’an itu termasuk orang-orang pilihan. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang ingin dan telah berusaha menghafalnya akan tetapi tidak berhasil, sekalipun ia tergolong orang- orang yang lancar dan baik bacaannya atau orang yang cerdas atau orang yang ahli dalam bahasa Arab.
Oleh karena itu, huffadh Al-Qur’an wajib mensyukuri nikmat yang agung ini dan merasa puas dengannya walaupun kadang-kadang seorang hafidh diuji dengan hidup dalam kemiskinan. Apabila mereka mensyukuri, pasti Allah akan menambahkan kenikmatan ini dengan semakin baiknya hafalan mereka dan mendapat lipatan pahala lebih banyak, yaitu pahala hafal ditambah dengan pahala membaca dan ditambah lagi dengan pahala bersyukur.
Sungguh kita sayangkan adanya sebagian huffadh Al-Qur’an yang telah bersusah payah menghafal Al-Qur’an dan ia mengira bahwa dengan hafal Al-Qur’an, dia akan mendapat jaminan keluasan dalam urusan dunia. Begitu dia melihat kenyataan bahwa ia hidup dalam keadaan serba sulit lalu ia tinggalkan Al-Qur’an dan terjun dengan semaksimal mungkin dalam urusan dunia dan akhirnya ia pun rela kalau nikmat agung berupa hafal Al-Qur’an itu hilang begitu saja.
Adapun bentuk bersyukur disini jangan hanya diartikan dengan rasa gembira dan puas saja, tetapi akan lebih tinggi nilai syukur itu apabila seorang hafidh banyak membacanya siang dan malam sebagai amal ibadah andalannya.
عَنْ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَاَحَسَدَ الأفى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ به آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ (متفق عليه)
‘Dari ibnu Umar r.a. dari Nabi SAW. beliau berkata tidak ada sesuatu hal yang patut diiri kecuali dua orang, yaitu: orang yang diberi oleh Allah (hafal) Al-Qur’an kemudian ia membacanya siang dan malam. Dan orang yang diberi oleh Allah harta (banyak) kemudian ia menafkahkannya siang dan malam.”
(HR. Muttafaq ‘Alaih).
Dan termasuk bentuk mensyukuri nikmat hafal Al-Qur’an adalah selalu memeliharanya jangan sampai lupa. Kalau tidak, sangat dikhawatirkan kalau nikmat ini dicabut oleh Allah untuk selamanya.
Rasulullah pernah menasehati Siti Aisyah r.a.:
أَكْرِمِي مَجَاوَرَةَ نعم الله فَاءِنَّ النِّعْمَةَ إِذَا ذَهَبَتْ قَلَّمَا تَرْجِعُ
“Hormatilah (peliharalah) perdampingan nikmat-nikmat Allah, karena nikmat itu apabila pergi, maka jarang sekali ia mau kembali.”
Dengan demikian jelaslah bahwa huffadh yang mau bersyukur akan semakin beruntung dan yang tidak bersyukur akan semakin merugi.




