Menghafal Al-Qur’an, Untung atau Rugi? Oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.

Bagian 1

Hidup di dunia ini adalah ujian, rapornya baru akan kita terima di akhirat nanti, siapa yang gagal maka ia tidak akan bisa mengulang lagi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati jangan sampai gagal di dalam mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat nanti. Sehingga kita tergolong orang yang merugi besar sepanjang masa.

Saya pernah mendengar adanya hafidh Al-Qur’an yang kelewat percaya diri. Dia sangat yakin kalau dia adalah orang yang mulia di dunia dan di akhirat, sampai dia berani berkata di hadapan orang banyak dalam suatu acara :

  • Orang yang hafal Al-Qur’an seperti saya ini nanti bila sudah mati jasadnya tidak akan di makan ulat.
  • Orang yang hafal Al-Qur’an seperti saya ini di jamin masuk surga dan bisa mensyafa’ati sekian banyak orang.
  • Orang yang hafal Al-Qur’an seperti saya ini….dan seterusnya. (selalu membuat dirinya sebagai contoh).

 

Kalau seandainya orang (hafidh Al-Qur’an) tersebut mau mempelajari secara utuh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan keutamaan para penghafal Al-Qur’an dan yang berkaitan dengan ancaman bagi para penghafal Al-Qur’an yang tidak konsekuen, tentu dia tidak akan berani berbicara seperti itu. Sebab di samping ada janji yang tinggi, resikonya juga tinggi. Ibarat perdagangan, menghafal Al- Qur’an itu adalah perdagangan tingkat tinggi, hasilnya pun ada dua kemungkinan: keuntungan besar atau kerugian besar.

Mari kita telaah ayat-ayat dan hadits di bawah ini :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

(فَاطِر: ٢٩)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagaian dari rizki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Faathir: 29)

Baca Juga  Orang Orang Pilihan Di Antara Ahlul Qur’an Oleh KH. Muhammad Fathoni Dimyathi, Lc.

Ayat tersebut dengan jelas memberikan kabar gembira kepada ahli Al-Qur’an bahwa perdagangan (akhirat) mereka tidak akan merugi, tetapi ayat tersebut masih memberikan persyaratan yang berat :

  1. Mendirikan sholat, dengan pengertian sholatnya baik.
  2. Ahli menafkahkan hartanya baik secara rahasia maupun terang- terangan.

 

        ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ

الْكَبِيرُ ( فَاطِر:٣٢)

“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang pembalap dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Faathir: 32)

Dalam ayat tersebut, dengan jelas Allah mengelompokkan para ahlul Qur’an menjadi 3 golongan:

  1. Ada yang dholim terhadap diri sendiri, yang menurut penafsiran para ulama, ialah orang yang kejelekan amalnya lebih banyak dari pada kebaikannya.
  2. Ada yang sedang yakni seimbang antara kebaikan dan kejelekan amalnya.
  3. Ada yang pemecah rekor dalam kebaikan yakni kebaikannya jauh melampui kejelekannya.

 

Sampai disini, kita (para huffadh) perlu bertanya pada diri kita sendiri: termasuk kelompok yang mana kita ini? Kiranya yang terbaik bagi kita adalah banyak-banyak beristighfar kepada Allah atas banyaknya dosa kita dan sedikitnya kebaikan kita. Dan sungguh disesalkan apabila ada oknum huffadh Al-Qur’an yang berani melakukan dosa besar.

Share this post
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Pinterest
Komentar